Ini jadwal upacara penutupan Asian Games 2018

Saturday, 1 September 2018

Ini jadwal upacara penutupan Asian Games 2018
Asian Games 2018. ©2018 Lintastoday
Asian Games 2018 akan resmi berakhir 2 September 2018. Upacara penutupan bakal berlangsung meriah. Dijamin tak kalah dengan pembukaan yang sangat heboh 18 Agustus lalu.

Antusiasme masyarakat menyaksikan Asian Games 2018 sangat tinggi. Penjualan tiket laris manis. Cendera mata pun setali tiga uang. Cepat habis dan harus susah payah untuk mendapatkannya.

Secara prestasi, Indonesia juga sukses besar di Asian Games 2018. Kontingen Indonesia menempati urutan empat dengan meraih 30 emas. Indonesia sejauh ini mampu mengungguli Iran.

Upacara Penutupan bisa disaksikan live di SCTV, Indosiar dan OChannel pukul 19.00 WIB, tanggal 2 September mendatang.

Berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, tiket closing ceremony Asian Games 2018 sudah ludes terjual.

Sederet hiburan sudah disiapkan panitia. Tak hanya artis lokal, penyanyi luar negeri juga akan tampil di upacara penutupan Asian Games 2018.

Beberapa artis top yang akan turut memeriahkan antara lain Super Junior (Suju), iKon, Bunga Citra Lestari, Siti Badriah, Isyana Sarasvati, Denada, hingga Gigi.
Baca Selengkapnya »

Pemkot Batu bakal guyur bonus lima atlet Asian Games 2018 mereka

Pemkot Batu bakal guyur bonus lima atlet Asian Games 2018 mereka
Lima Atlet Paralayang Indonesia Disambut dengan meriah oleh Pemerintah Kota Batu
Pemerintah Kota Batu mengapresiasi raihan lima atlet mereka yang sukses menangguk prestasi pada ajang Asian Games 2018. Mereka berjanji bakal memberi guyuran bonus pada Jafro Megawanto dan kawan-kawan.

"Kami ingin mengapresiasi prestasi atlet-atlet kami," ujar Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso, Jumat (31/08).

"Mereka ini telah mengharumkan nama Indonesia dan juga Kota Batu. Karenanya, kami merasa wajib memberi apresiasi bagi anak-anak kami," sambungnya.

Menurut Punjul, pemberian bonus bagi para atlet berprestasi ini bukanlah yang pertama kali. Pemkot Batu, dalam peringatan ulang tahun mereka, selalu memberi apresiasi bagi warga mereka yang meraih prestasi.

"Jadi ini sudah hal yang rutin. Terlebih, anak-anak kami ini sudah mengharumkan nama Batu, juga Indonesia," tuturnya.

Namun, Punjul tak mau mengungkap wujud maupun besaran bonus yang bakal diberikan. Ia pun mengelak ketika ditanya apakah Pemkot Batu akan memberi keistimewaan bagi para atlet tersebut untuk menjadi pegawai negeri sipil.

"Itu rahasia. Biar jadi surprise buat mereka," ucapnya, sembari tertawa.

Dalam ajang Asian Games ini, ada lima orang atlet asal Kota Batu, yaitu: Jafro Megawanto, Rika Wijayanti, Ika Ayu Wulandari, Jony Effendi, dan Roni Pratama. Lima atlet ini terjun di cabang olahraga paralayang.

Raihan kelima Arek Batu tersebut pada ajang Asian Games 2018 sama sekali tak mengecewakan. Mereka mampu meraih dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Sementara itu, sebagai bentuk apresiasi, selain memberi bonus, Pemerintah Kota Batu juga mengadakan pesta penyambutan bagi lima atlet mereka tersebut. Usai dijemput di Bandara Abdulrahman Saleh Kabupaten Malang oleh perwakilan Pemkot dan KONI, para atlet ini disambut oleh Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso, di pelataran Jatim Park 3.

Setelahnya, menggunakan mobil bak terbuka, mereka diarak menuju Balai Kota Batu, untuk kemudian disambut Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, dan jajaran forum pimpinan daerah Kota Batu.

Dalam pantauan Bola.net, sambutan masyarakat Kota Batu bagi lima pahlawan olahraga mereka ini sangat meriah. Di sepanjang jalan protokol yang dilewati rombongan atlet tersebut, warga masyarakat dan para siswa berjajar membawa bendera merah putih dan spanduk bertuliskan ucapan terima kasih dan selamat datang bagi para atlet tersebut.
Baca Selengkapnya »

Timnas basket putra Indonesia gagal bekuk Jepang di Asian Games 2018

Friday, 31 August 2018

Timnas basket putra Indonesia gagal bekuk Jepang di Asian Games 2018
Jamarr Johnson. ©2018 Lintastoday/Inasgoc/Antara
Tim nasional basket putra Indonesia gagal menduduki peringkat ketujuh dalam Asian Games 2018. Tim besutan Fictor Roring ini dipaksa menyerah 66-84 oleh Jepang di Istora Senayan, Jumat (31/8).

Sebenarnya Indonesia mampu mengimbangi kekuatan Jepang di kuarter pertama dengan dimotori Jamarr Johnson. Indonesia hanya tertinggal setengah bola 20-21 di akhir kuarter pertama.

Jepang menjauh di kuarter dua setelah melesakkan 18 poin berbanding 12. Memasuki kuarter tiga, Indonesia bisa merapatkan jarak menjadi tiga poin saja.

Sayangnya momentum kebangkitan timnas tak berlanjut di kuarter empat. Jepang tampil cemerlang dan berhasil melesakkan 27 angka dan meredam Indonesia sehingga hanya memasukkan 12 poin.

Naoto Tsuji jadi bintang kemenangan Jepang. Dia menorehkan 29 poin, sedangkan di kubu Indonesia, Jamarr mengumpulkan poin terbanyak 23.

Kemenangan Jepang ini tak lepas dari keperkasaan dalam melakukan tembakan tiga angka. Total 16 kali tembakan tiga angka Jepang masuk, sedangkan Indonesia hanya membuat lima tembakan tiga angka.
Baca Selengkapnya »

Usai rebut perak, Lalu Muhammad Zohri langsung kembali ke Lombok

Usai rebut perak, Lalu Muhammad Zohri langsung kembali ke Lombok
Lalu Muhammad Zohri. ©2018 Lintastoday/Inasgoc/Antara
Usai merebut medali perak bersama tim lari estafet 4x100 meter putra di Asian Games 2018 pada Kamis (30/8), Lalu Muhammad Zohri mengaku segera kembali ke Lombok.

Medali perak ini direbut Zohri bersama Fadlin, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara dengan catatan 38,77 detik, sementara emas direbut oleh Jepang dan perunggu direbut China.

Hasil ini sekaligus menandai berakhirnya perjuangan Zohri di Asian Games 2018. Dia mengaku ingin langsung pulang ke Lombok pada Jumat (31/8), tak sampai 24 jam usai meraih medali perak. "Saya langsung pulang besok (Jumat) ke Lombok. Naik penerbangan pertama ke sana," kata Zohri.

Zohri sudah lama tak pulang ke Lombok, tepatnya setelah mengikuti persiapan Asian Games 2018. Rasa rindunya kepada keluarga membuncah, apalagi saat ini keluarganya sedang mengungsi karena gempa yang mengguncang Lombok Utara beberapa waktu lalu.

Zohri mengaku kabar terkait gempa itu sempat membuat konsentrasinya pecah. Namun, keluarganya yang berada di pengungsian mampu menguatkan, sehingga dia bisa fokus berjuang di Asian Games 2018.

"Saya memang sedikit terganggu dengan berita itu. Kepikiran juga, sekarang keluarga masih mengungsi di gunung. Namun, mereka meyakinkan saya baik-baik saja dan agar fokus saja ke Asian Games 2018," pungkas Zohri.
Baca Selengkapnya »

Lalu Muhammad Zohri beber 'trik' agar tetap tenang saat rebut perak Asian Games

Lalu Muhammad Zohri beber 'trik' agar tetap tenang saat rebut perak Asian Games
Lalu Muhammad Zohri. ©2018 Lintastoday/Inasgoc/Antara
Atlet lari Indonesia, Lalu Muhammad Zohri mengaku sangat senang usai merebut medali perak dalam cabang olahraga atletik nomor tim estafet 4x100 meter di Asian Games 2018 pada Kamis (30/8) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (30/8).

Zohri bersama Fadlin, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara meraih medali perak setelah menjadi yang tercepat kedua, dengan catatan waktu 38,77 detik. Medali emas direbut tim estafet Jepang dan perunggu jadi milik China.

"Kami tentu saja merasa bangga dengan apa yang diraih. Kami ingin mengucapkan terima kasih banyak bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga NTB. Medali ini kami persembahkan untuk kalian," ujar Zohri.



Atlet berusia 18 tahun itu pun membeberkan "trik" yang ia lakukan agar tetap tenang saat berlaga. Ia mengaku membaca Surat Yasin sebelum dan selama berada di arena perlombaan.

"Baca doa. Sebelum dan selama saya masih berada di arena perlombaan, saya juga selalu membaca Surat Yasin. Itu untuk membuat diri saya tenang," ucap Zohri, saat ditanya salah satu kunci tetap fokus selama perlombaan.

Tak hanya medali perak, catatan waktu Lalu Muhammad Zohri dkk juga memecahkan rekor nasional. Mereka memecahkan rekor atas nama mereka sendiri, 39,03 detik yang diraih pada babak kualifikasi, Rabu (29/8/2018).

Raihan medali perak Asian Games 2018 juga menjadi sejarah baru. Itu merupakan medali perak pertama Indonesia dari nomor 4x100 meter setelah Asian Games 1966 alias 52 tahun silam.
Baca Selengkapnya »

Sama-sama rebut emas, Jonatan Christie ingin jadi 'The New Taufik Hidayat'

Sama-sama rebut emas, Jonatan Christie ingin jadi 'The New Taufik Hidayat'
Jonatan Christie. ©2018 Lintastoday/Inasgoc/Antara
Jonatan Christie seolah menjadi angin segar bagi bulutangkis Indonesia di Asian Games 2018. Atlet berusia 20 tahun ini sukses besar merebut medali emas usai mengalahkan wakil Chinese Taipei, Chou Tienchen di final pada Selasa (28/8) lalu, prestasi yang terakhir kali dicicipi tunggal putra Indonesia di Asian Games 2006 di Doha, Qatar.

Tunggal putra bulutangkis sejatinya tak mendapatkan beban dari pemerintah untuk menyumbang medali emas di Asian Games 2018. Target emas dari pemerintah justru ditujukan pada ganda putra, sedangkan target emas dari PB PBSI ditujukan untuk ganda putra dan ganda campuran.

Ternyata, Jonatan justru melampaui ekspektasi pemerintah dan PBSI, merebut emas usai mengalahkan Chou Tienchen 21-18, 20-22, 21-15 di final. Bagi Indonesia, ini adalah emas pertama tunggal putra yang diraih di Asian Games sejak 2006 lewat Taufik Hidayat. Jonatan yang baru berusia 20 tahun pun tak memungkiri dirinya ingin menjadi "The New Taufik".



"Semua pemain pasti mau jadi sosok idolanya. Siapa pun itu saya rasa itu adalah hal wajar. Tapi yang kita ingin bangkitkan kembali itu ya nama tunggal putra Indonesia. Setelah eranya Taufik Hidayat, ke sini-sini agak kurang," ujar Jonatan.

Hampir semua tunggal putra Indonesia menjadikan Taufik sebagai panutan. Di masa jayanya, banyak gelar yang telah dimenangkan Taufik. Beberapa di antaranya adalah Kejuaraan Dunia 2005, Olimpiade 2004, SEA Games, Asian Games, hingga Piala Thomas.Sayang, setelah Taufik pensiun, belum ada lagi sosok tunggal putra Indonesia yang mampu menjadi penerusnya.

Karenanya, dengan meraih emas Asian Games, Jonatan pun berharap bisa menjadi penerus Taufik. "Ini tugas juga buat saya, Anthony (Sinisuka Ginting), tim pelatih, PBSI, untuk bagaimana caranya kita dapat membangkitkan lagi nama tunggal putra," pungkas atlet yang akrab disapa "Jojo" ini.
Baca Selengkapnya »

Dapat perak, tim estafet Indonesia unggul di pertukaran tongkat

Dapat perak, tim estafet Indonesia unggul di pertukaran tongkat
Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara. ©AP Photo/Bernat Armangue
Tim estafet 4x100 meter putra sukses mempersembahkan medali perak dalam babak final Asian Games 2018 pada Kamis (30/8) malam. Sang pelatih, Eni Nuraini pun mengaku sangat terkesan pada performa anak-anak asuhannya, dan menyebut mereka unggul pada teknik pertukaran tongkat.

Dalam lomba tersebut tersebut, tim estafet Indonesia 4x100 meter putra diperkuat Fadlin sebagai pelari pertama, disambung Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara. Pada babak final tersebut, tim Indonesia berhasil finis dengan catatan waktu 38,77 detik.

Catatan waktu tersebut sudah cukup membuat mereka meraih perak, sementara emas diraih Jepang dengan catatan waktu 38,16 detik dan China mendulang perunggu. "Memang untuk mempersiapkan empat orang ini semua untuk menjadi satu, satu tujuan, tidak mudah. Jadi, pada setiap latihan, setiap hari, kami selalu berdiskusi," kata Eni.

"Terutama perpindahan tongkat dari pelari pertama ke dua, dari dua ke tiga, dan tiga ke empat apakah dengan jarak segitu sudah cocok atau belum. Di antara mereka juga bisa memperbaiki pertukaran tongkat itu. Memang rahasianya di estafet adalah pertukaran tongkat," lanjut Eni.

Sementara itu, Fadlin mengatakan kekompakan tim jadi kunci agar pertukaran tongkat berlangsung mulus. Faktor inilah yang harus terus diasah agar bisa percaya satu sama lain. "Strategi" ini pun ternyata terbayar, dan mereka sukses menggenapi perolehan medali Indonesia menjadi 90 medali.

"Kuncinya agar perpindahan tongkat mulus adalah kebersamaan tim dan juga kekompakan. Selain itu, kami satu sama lain juga sudah sama-sama paham keinginan teman. Selain itu, yang terpenting juga harus percaya satu sama lain," ucap Fadlin.

Medali perak ini menjadi yang kedua diraih Indonesia dari nomor estafet 4x100 meter sepanjang keikutsertaan di Asian Games. Terakhir, medali perak tersebut diraih pada Asian Games 1966 oleh Soepardi, Agus Sugiri, Bambang Wahjudi dan Jootje Pesak Oroh.
Baca Selengkapnya »

Sabet emas pencak silat, Wewey Wita sudah yakin menang sejak awal

Sabet emas pencak silat, Wewey Wita sudah yakin menang sejak awal
Wewey Wita. ©2018 Lintastoday/Inasgoc/Antara
Indonesia sukses berkuasa di cabang olahraga pencak silat Asian Games 2018. Cabor ini pun menjadi penyumbang medali terbanyak bagi Merah Putih. Total ada 15 medali, yang terdiri dari 14 emas dan satu perunggu. Tak percuma Indonesia memasukkan pencak silat sebagai salah satu cabor di Asian Games 2018, karena para pesilat memanfaatkannya dengan sangat baik.

Pada Senin (27/8), delapan emas yang diamankan para pesilat Indonesia di Padepokan Pencak Silat TMII. Tambahan enam emas didapat pada Rabu (29/8) dari kelas seni dan tarung. Emas terakhir dari pencak silat pun direbut Wewey Wita di kelas tarung putri 50-55 kg.

"Mungkin kalau saya pribadi ada energi tambahan karena bertanding di negara sendiri. Di rumah kita sendiri banyak sekali masyarakat yang mendoakan dan mendukung. Asian Games pun digelar berdekatan dengan Hari Kemerdekaan, jadi makin menambah semangat. Kami para pesilat termotivasi memberikan yang terbaik. Hal-hal tersebut kunci kami bisa sukses," ujar Wewey.



Untuk Wewey, ia dinobatkan sebagai peraih medali emas usai menang mutlak atas pesilat Vietnam, Tran Thi Them dengan skor 5-0. Bagi pesilat berusia 25 tahun itu, ini adalah peningkatan prestasinya setelah meraih emas SEA Games 2017.

"Wewey sangat bersyukur dan terima kasih untuk seluruh masyarakat Indonesia karena mendoakan dan mendukung saya. Ini semua untuk Indonesia. Akhirnya di Asian Games bisa memberikan yang terbaik. Sebenarnya sudah yakin menang. Kalau dibilang soal strategi, kan lawan juga sudah tahu teknik saya. Terpenting percaya dengan teknik yang dimiliki dan kebetulan juga semua orang datang mendukung. Itu jadi kekuatan untuk saya," Wewey menambahkan.

Perusahaan jasa aplikasi Grab sebagai sponsor resmi Asian Games 2018 memberi dukungan ke atlet-atlet Indonesia lewat program kampanye #CeritaKemenangan dan #KemenanganItuDekat. Kampanye ini mengajak rakyat Indonesia untuk memberikan dukungan kepada putra-putri bangsa yang tengah berlaga di ajang terbesar Asia.

Grab melibatkan tujuh legenda olahraga nasional, Tati Sumirah (bulutangkis), Ellyas Pical (tinju), Nico Thomas (tinju), Pascal Wimar (voli), Abdul Rojak (taekwondo), Sutiono (balap sepeda), dan Alex Pulalo ( sepak bola) dalam kegiatan torch relay. Sukses mereka di masa lalu diyakini akan jadi sumber inspirasi bagi atlet-atlet kita.

Kesuksesan yang diraih Wewey Wita menjadi sebuah kebanggaan bagi Grab dan juga rakyat Indonesia.
Baca Selengkapnya »

Jadwal pertandingan Indonesia di Asian Games 2018 hari ini, 31 Agustus

Jadwal pertandingan Indonesia di Asian Games 2018 hari ini, 31 Agustus
Asian Games 2018. ©2018 Lintastoday
Kontingen Indonesia akan kembali berlaga dalam Asian Games 2018 pada Jumat (31/8). Para atlet kebanggaan bangsa akan berusaha sekeras mungkin demi hasil terbaik dan menambah koleksi medali.

Terhitung sampai pada pukul 09.00 WIB pagi ini, Indonesia masih berada di peringkat keempat pada klasemen perolehan medali, dengan koleksi 90 medali yang 30 di antaranya merupakan medali emas.

Berikut jadwal pertandingan Kontingen Indonesia di Asian Games 2018 pada 31 Agustus.

JAKARTA

  • 09.00 WIB: Voli putri
  • 09.00 WIB: Sambo putra dan putri
  • 09.06 WIB: Judo putra dan putri
  • 09.30 WIB: Bridge putra, putri dan campuran
  • 10.00 WIB: Basket 5x5 putra dan putri
  • 10.20 WIB: Polo air putra
  • 11.36 WIB: Rugby-7 putra dan putri
  • 11.55 WIB: Loncat indah putra dan putri
  • 12.00 WIB: Layar putra dan putri
  • 11.00 WIB: Modern pentathlon putri
  • 14.00 WIB: Bisbol putra
  • 16.00 WIB: Tinju putra dan putri
  • 21.00 WIB: Balap sepeda trek putra dan putri


PALEMBANG

  • 07.30 WIB: Triathlon putri
  • 09.00 WIB: Kano/kayak sprint putra dan putri
  • 09.00 WIB: Soft tenis putra dan putri
  • 10.00 WIB: Sepak takraw putra dan putri
  • 14.00 WIB: Sepatu roda putra dan putri
Baca Selengkapnya »

4 Hal mengejutkan terjadi di Asian Games 2018

4 Hal mengejutkan terjadi di Asian Games 2018
Asian Games 2018. ©2018 Lintastoday
Pagelaran Asian Games 2018 tak lama lagi akan berakhir. Di detik-detik terakhir ini para atlet masih terus berjuang untuk mengumpulkan medali demi mengharumkan nama bangsa.

Di sisi lain, banyak hal-hal mengejutkan terjadi di Asian Games 2018. Tentu ini membuat bangga dan bahagia masyarakat Indonesia. Berikut hal-hal mengejutkan tersebut.

1. Pertemuan Jokowi dan Prabowo
Venue Pencak Silat Asian Games di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi saksi sejarah. Gegap gempita suporter Indonesia menyaksikan pemandangan yang langka terjadi. Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, sama-sama memeluk atlet pencak silat Indonesia Hanifan Yudani Kusumah. Momentum itu terjadi setelah Yudani memastikan meraih emas di cabang olah raga pencak silat untuk kategori Single Men Class 55kg-60kg .

Setelah ditetapkan sebagai pemenang dalam pertandingan melawan atlet Vietnam, Yudani berlari dengan mengibarkan bendera merah putih. Dia meluapkan kegembiraan dan rasa haru serta kebanggaan. Setelah berlari, Yudani naik ke kursi VVIP.

Tiba-tiba, Yudani memeluk Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto. Pelukan ketiganya diselimuti bendera merah putih yang dibawa Yudani. Ekspresi Jokowi dan Prabowo menyiratkan keduanya tak menyangka bakal mendapat pelukan hangat dari Yudani. Seisi venus pencak silat mendadak heboh. Apalagi Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto bakal bertarung dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

2. Target raih emas terlampaui
Hingga saat ini, Indonesia masih berada di posisi keempat perolehan medali emas terbanyak pada Asian Games 2018. Indonesia sudah mengumpulkan puluhan medali emas dari berbagai cabang olahraga.

Perolehan emas ini telah melampaui target. Sebab Indonesia menargetkan hanya memboyong 16 medali emas dari pesta olahraga terbesar se Asia tersebut. "Menurut saya target 16 emas yang sudah kita tentukan ini insya Allah terlampaui. Optimis!" kata Jokowi usai membesuk Presiden ketiga RI Bachruddin Jusuf Habibie di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Senin (27/8).

3. Raihan emas terbanyak sepanjang Asian Games
Indonesia patut berbangga dengan atlet-atlet yang dimiliki pada Asian Games 2018. Atas prestasi mereka, Indonesia mendapatkan puluhan medali emas. Sepanjang sejarah Asian Games baru pertama kalinya Indonesia memboyong puluhan medali emas.

Misalnya saja pada Asian Games 2006 di Doha, Indonesia hanya mengantongi dua medali emas dari cabor bulu tangkis dan boling. Kemudian pada 2010 di Guangzhou empat medali emas dari perahu naga tiga dan bulu tangkis satu. Sedangkan pada Asian Games 2014 di Incheon meraih empat dari cabor atletik, bulu tangkis dan wushu.

4. Pencak Silat paling banyak boyong emas
Pencak Silat Indonesia menjadi cabang olahraga (cabor) peraih terbanyak medali emas pada Asian Games 2018. Indonesia meraih 14 emas dari cabor ini dan hanya gagal dua di dua nomor yang dipertandingkan.

Perolehan sementara Indonesia mengantongi 30 emas, 22 perak dan 37 perunggu pada Asian Games ini. Dengan perolehan tersebut posisi Indonesia berada di urutan ke empat setelah China, Jepang dan Korea.
Baca Selengkapnya »